Asapmu jangan kau beri 'lagi' untuk kami (part 2)

tik..tok..tik..tok..., waktu terus berjalan. AKu panik hanya bisa panik menunggu sesuatu yang jawabannya masih sama. Menangis dan secuil pikiranku mengatakan, apakah aku gagal menjadi seorang umi?dan ini adalah hukuman bagiku? Aku butuh teman cerita. Tidak hanya itu, aku butuh seseorang yang bs menitipkan anak keduaku, akemi agar aku bisa segera berlari menuju anak pertamaku yang saat ini masih terbaring.

Aku kabarkan kakakku yang tinggal di Belitung.  Aku tidak bisa berharap dia akan segera terbang menuju kesini, karena diapun punya kepentingan yang berbeda.  Kakakku segera menenangkanku, semenjak Mama sudah tidak ada, aku sering bercerita dengan dia.  Aku percaya dia akan selalu memberikan telinganya untuk mendengarkan kebingunganku.

Aku tersadar, percuma menghabiskan waktu dengan menangis, toh menangis tidak merubah keadaan.  AKu harus kuat, agar Altair bisa lebih kuat.  Anakku ke dua Akemi jg butuh aku.  Aku harus fokus merawat akemi di rumah, sehinnga menenngkan babahnya yg masih berjuang bersama ALtair di Rumah Sakit.

Ketika Akemi sudah tertidur, aku berdoa penuh harap, aku baca yasin, yaahh... walaupun aku masih dalam keadaan nifas, dan tidak bisa sholat, aku tetap yakin Allah Maha Mendengar, Maha Penyembuh, Maha Tahu, Maha segalanya..

Jam terus berlalu.. Kabar yang dinanti tetap sama.  Dokter masih berjuang, dan Allah akan mengampuni dosa2 kami dan mengabulkan doa, harapan kami agar Altair bisa kembali dititipkan kepada kami.  Hingga 1 tahun lebih sudah terlewat, betapa aku masih ingat saat itu.  Dadaku serasa berat, lidah kelu, dan hanya Allah sebaik-baik kekuatanku, kekuatan kami semua.

Dan... Aku tidak memperhatikan kapan waktunya, handphoneku kembali berdering, dadaku berat, dag-dig-dug berpikir keras, kabar apa yang kali ini aku dapatkan.  Aku menyiapkan hati, Aku mencoba ikhlas, apapun itu...

Alhamdulillah, Altair sadar.  Aku mendengar suara tangisnya yang keras, mendengar suara Alhamdulillah sayup dari balik telepon.  Aku mendengar suara Altair memanggilku.  "Altair mau umi..., Umi..., sakit..".

Aku minta suamiku menempelkan handphone ketelinga Altair, Aku hanya bisa bilang, "Iya nak, Umi kesana..., maafin umi ya.., Umi sayang Abang, terima kasih abang, abang anak hebat."

Suamiku melanjutkan, "Umi, nanti ya, abang mau ditangani dokter, ruang ICU anak masih penuh.  Abang masih perlu diobservasi.  Kita sedang mencari ICU Rumah Sakit mana yang bisa memasukkan abang." Telepon ditutup

Alhamdulillah, saat itu tak henti bibirku berucap.  Alhamdulillah, Kau masih memberikan kepercayaan padaku merawat anakku, Altair...
Alhamdulillah....

Satu jam berikutnya, aku kembali menelepon suamiku.  "Bagaimana?, jadi Abang sekarang gimana?"
"Abang masih di UGD." sahut suamiku pendek.
"Haa??maksudnya? belum dapat kamar?"
"Iya...., ICU anak masih penuh.  Sudah menghubungi RSU, katanya jika nanti ada akan dihubungi.  itupun masih ada yang mau masuk juga."
"......"

Kubuka list nomor kontak handphone, kuhubungi teman yang cukup dekat denganku (semoga diapun menganggapnya seperti itu 😝) yang sudah menjadi dr spesialis anak.
"Assalamualaikumm, Rin? "
"Walaikumsalam, Iya..Kenapa dek?
"Abang koma...."
"Altair? sekarang kondisinya gimana?"
"Sudah sadar"
"Alhamdulillah, terus sekarang dirawat dimana?"
"Masih di UGD"
"Lhoo? ICU anak penuh?, sabar ya dek, Rini coba hubungi RSU."
Telepon mati.

Kriinggg....
Segera kuangkat dan "Assalamualaikum Rin."
"Walaikumsalam..., iya nih dek, tadi aku telepon kesana, katanya sudah dihubungi, tapi memang lagi penuh.  Aku sudah titip pesan, begitu kosong, aku minta Altair yang masuk"
"MAkasih Rin"
"Sabar ya dek.."

Beberapa jam kemudian, Suamiku mengabarkan, Altair bisa masuk HDU, ada yang kosong.  Memang HDU sedikit berbeda dengan ICU anak, tapi pada dasarnya sama saja, hanya ruangannya sedikit bercampur usia. Dan yang penting Altair mendapatkan perawatan Intensif.
Akupun segera mengabarkan Rini, dan berterimakasih dengan usahanya😍

Aku sedikit lega.., hanya berpikir bagaimana caranya bisa kesana.  Dan suamiku berkata, Tidak apa2, Aku pergi ke sana, Altair ingin ketemu uminya, dan ketika aku sampai, segera hubungi, tidak masalah meninggalkan Altair beberapa saat, dan aku bergantian dengan suamiku menjaga anak keduaku, Akemi.

Sesampainya aku di sana, seperti rencana, suamiku segera keluar dan menjaga Akemi.  Sementara aku masuk menemui Altair.  Altair minta dipeluk.  Perawat mengatakan Altair hanya mau makan dengan uminya.

Setelah makan, altair tertidur.  Aku tersenyum memandangnya, Aku menghubungi suamiku melalui wasap.  Suamiku bercerita, "Setelah tersadar, Abang sempat kejang."
"Loh, kog tadi ga cerita?"ujarku
"Takut umi tambah panik.  Sudah di CT scan, Laporannya baik, Tapi masih observasi, penyebab tidak sadarkan diri, dan menjadi kejang.  Dokter nanya, apakah abang pernah kejang, dan babah sudah jawab, tidak pernah.  makanya dokter menganggap observasi hingga cukup stabil."

Beberapa hari di HDU, Altair diperbolehkan pindah kamar rawat inap.  dan ketika kondisi mulai stabil Altair diijinkan untuk pulang dengan membawa banyak berkas hasil pemeriksaan, dan bekal obat.

Belum sampai 1 minggu Altair di rumah, Altair kejang.  Aku bingung, apa yang salah? Apa artinya masih ada yang belum benar? Dalam sehari bisa kejang belasan bahkan puluhan kali.  Sejak itu keluar masuk Rumah Sakit seperti tidak ada habisnya.  Belum ada diagnosis jelas, dokter belm bisa memastikan, hanya membuatnya stabil dan lalu kemabli lagi.

Adek bayi ikutan nginep di rs 
(diperbolehkan dengan bbrp syarat...)

Hingga hampi 2 bulan bolak-balik RS, abang di diagnosis Encephalitis (radang otak), yang diakibatkan virus dari udara yang tidak bisa dilawan lagi oleh tubuh akhirnya menyerang otak, dan menyebabkan beberapa syaraf membuat altair menjadi kejang.  EEG , MRI ,  Ct scan , belum lagi pemeriksaan darah berkali2 untuk observasi kondisi Altair.

Beberapa Kali mengulang
 'berkunjung' ke RS


"Takdir maut, rejeki,  jodoh... Semuanya hak preogratif Allah SWT.  Manusia hanya bisa bicara dan berpendapat, namun sesungguhnya  Allah Yang Maha Kuasa atas segala hal yang Ia kehendaki..."

Efek dari kejang itu sendiri membuat abang menjadi sulit mengunyah, bisa dibayangkan rahang dan lidah kaku dan akhirnya abang kesulitan berbicara.  Ya Allah..., kami hanya bisa berdoa memohon kesembuhan.  Kami harus memompa kondisi mental abang agar selalu semangat dan punya keinginan sembuh.  Abang makan saat itu dengan kondisi bubur cair yang didorong dengan air bahkan memaksanya menahan rasa mual😭 belum lagi ditambah banyaknya obat yang harus ditelan.

Adikku yang baru saja ditugaskan kerja  di Palembang berkunjung ke RS, mengabarkan bahwa keluarga rekan kerjanya di Palembang bisa tidak mengalami kejang lagi setelah dipijat oleh bude Ika.
Aku sempat bertenya2. Dari sisi logika, apakah itu mungkin? Sementara informasi yng kami dengar dari dokter, Karena kejang yang disebabkan oleh encephalitis bisa hilang jika minum obat teratur sambil menghilangkan sisa encephalitis itu sendiri.  Aahhh.. Tapi saat itu aku hanya berpikir, Allah bisa memberikan kesembuhan dengan banyak cara, hanya berpikir itu adalah ikhtiar, semua kembali kepada Allah SWT.

Pulang dari RS, ketika kondisi Abang bisa dibawa pergi, suamiku dan adikku membawa abang ke bude ika.  Ia mengurut bagian tulang ekor abang, hanya 5 menit.  Ia pun meminta abang tidak mengkonsumsi obat syaraf yang membuat tatapan mata abang menjadi redup.  Kami mengiyakan, seperti spekulasi, namun lagi2 kami ikhtiar dengan jalan lain, setelah mencoba ikhtiar di RS.
Alhamdulilllah, Allah tidak pernah tidur.  Allah akan mengabulkan doa umatnya yang benar2 memohon.  Allah memberikan kami sentilan, kejutan, tapi Allah memberikan akhir yang indah.

Sejak pulang dari urut, Alhamdulillah Altair tidak pernah kejang lagi, dan jangan sampai terulang lagi, Matanya kembali berbinar, dan saat ini Kemampuan mengunyahnya sudah jauh lebih baik dan kondisi berbicaranya sesaat lagi akan normal seperti anak2 lainnya,  terapi wicaranya sdh mulai berkurang menjadi 1 minggu Sekali.  Sudah lebih dari 1 tahun sejak waktu itu.  Bahkan saat ini Akemi, adiknya sudah mulai bisa berlari.  Kesabaran memang akan indah pada akhirnya..., InsyaAllah...😊



Baca juga:
Asapmu jangan kau 'beri' lagi untuk kami (part 1)
pasca sembuh-wicara with om maliq











Comments

  1. Sampai separah itu ya Mbak efeknya. Ke anak-anak pula. Ya Allah.

    Ke mana-mana mesti pake masker ya minimal, terus banyak minum air putih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa...😢 pun ga semudah itu pake masker mbak, masker medis itu ga menyaring debu partikel ga jelas dr asap, sementr masker 3m, anak2 ga betah..berasa dikekep. Di Rumah aja udah berasa kabut dimana mana..aaiihh 😑

      Bener mbak, pas kondisi gitu air putih is the best😊

      Delete
  2. Waah mbak adh ummi yg hebat bisa melewati ini semua. Semoga Altair selalu diberi kesehatan ya mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insyaallah semua Ibu bakal gitu jg mbak😊
      Aamiin..aamiin..
      Makasih mbak😊

      Delete
  3. Mba baca artikelmu aku jadi nangis, teringat kasus anakku. 2 kali aku hampir kehilangan anakku karena kejang demam. Yang pertama waktu bayi, sekujur tubuhnya pucat dan kaku. Ujung jari tangan kaki semua membiru. 12 jam kami sekeluarga besarku mendoakan keselamatannya sesuai dengan cara kami masing-masing. Andai Allah mengambilnya mungkin aku bisa gila karena tidak bisa menerima dan menyalahi diriku. Saat itu aku cuma bisa lemas nangis hampir pingsan karena smua nyalahin aku. Aku cuma bilang ijinkan aku merawatnya ya Allah. Jangan ambil bayi mungilku. Syukurlah anakku sempat tertolong di RS terdekat. Doaku buat keluarga Mba, sehat buat keluarga di sana. Mba ibu yang hebat. Salam kenal & salam sahabat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Astaghfirullah..., perasaan Ibu dimana2 sama ya mbak..
      Jangankan yang sudah lahir, ketika di dalam kandungan saja Ada hal2 yang Kita tidak ketahui membuat dia sakit, sedihnya luar biasa. Ikatan batin itu sdh tercipta sejak awal. Alhamdulillah ya mbak, Kita masih diberi kepercayaan merawat Anak2.
      Si Kecil sekarang usianya berapa? Semoga mbak dan keluarga selalu diberi kesehatan..aamiin..
      Salam kenal jg dr kami😊

      Delete
  4. Subhanallah...perjuangan altair. Smoga slalu sehat yaaa naak. Smoga ummi juga slalu diberi kesabaran :)
    Perjuangan seorang ibu yaaaaa,saya juga mrasakan saat sakit kmarin ibu saya yg bwrjuang utk saya siang malam. Karna sempat mengalami kondisi yg hampir sama dg altair ada kejang2 sudah di MRI Eeg normal. Sampai skarang efeknya saya masih mrasakan walaupun sudah tidak pernah kejang lagi. Tetep smangat yaaaaa ummi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiiin...aamiinn
      Mbak kejang2 usia berapa mbak? Alhamdulillah hasil MRI dan eeg mbak normal. Altair di MRI hippocampusnya mengalami sedikit penyusutan, Insyallah sell otak yg lain bs menggantikan fungsinya, apalagi altair masih Kecil jd masih bs terus distimulasi😊 semoga ttp sehat dan selalu sehat ya mbak.., semangat terus mbak✌

      Delete
  5. Peluk sayang untuk altair, sehat selalu dan bangga memiliki bunda yang hebat dan tanggap

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiiin..aamiiin..
      Makasih mbak, sehat selalu jg untuk mbak dan keluarga😊 peluk sayng Dari kami😘

      Delete
  6. MashaaAlloh kasih sayang seorang Ibu terhadap anaknya,Semoga sehat selalu Altair,ummi dan seluruh keluarga,Barokaullohu Fii Umriik
    Salam kenal ya ummi 😇

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiiin..aamiiin..makasih mbak, salaam kenal jg😊 semoga mbak dan keluarga jg diberi kesehatan, aamiin

      Delete
  7. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  8. Subhannalloh... Aku jadi teringat Alm. Anakku yang kedua mba, semoga selalu diberikan kesehatan terus untuk abang Altair ya mba, dan diberikan kesabaran untuk kedua orang tuanya. Aamiin.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Innalillahi wa innalillahi rojiun, turut berduka mbak😥 klo boleh tahu kenapa mbak dengan alm anaknya mbak? Sama kasuskah?
      Yang sabar ya mbak..., semoga Kita semua diberikan kesabaran dan kesehatan, ammiin...aamiiin yaa rabbal alaamiin..

      Terimakasih mbak..

      Delete
  9. ya ALLAH lya, berarti asap itu sangat berbahaya bagi anak anak... harusnya cerita ini sampai ke pak JOKOWI. biar kalau terjadi kembali kebakaran hutan, penanganan tidak berlarut larut.. jangan sampai ada altair altair lain yg jadi korban..

    btw skrg kondisi abang altair gimana..

    ReplyDelete
  10. Banget fik..., makanya lya kmren ikutan petisi masalah tindak tegas pelaku kebakaran hutan.

    Alhamdulillah kondisi Abang semakin membaik, bberp hal dilist ulang, stimulasi ulang yg kira2 'mungkin' terlihat terlupakan.. Klo baca2, dan kata dokter sih penyusutan hippocampus itu artinya mungkin ad bbrpa memori yg terlupakan? Berpikir Positif aja semoga memori yg jelek yg hilang, hehee..
    Klo Terapi wicara Insyaallah bntr lagi Lulus.
    Makanya lya seneng2 aja Abang ngoceh2, inget ga ngmng kemren ngejleb banget😟

    Makasih ya fik😊😘

    ReplyDelete
  11. Kalau aku kecium asap rokok saja sudah puteng dan pengen mual rasanya. Apalagi ini kebakaran hutan yang bisa jangka panjang menyebabkan berbagai penyakit aku pasti tumbang Mba. Mudah-mudahan negara kita semakin lebih peduli alam ya Mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaamiiinn...aamiin...., makasih mbak :)

      Delete
  12. Semua segala usaha harus kita lakukan untuk kesehatan anak ya Mba. Tetap semangat...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts